"Bagaikan membeli kucing dalam karung" Bila dikaitkan dengan bisnis, pepatah di atas berarti sebuah produk yang belum jelas spesifikasinya. Seperti apa produk yang ditawarkan, juga kurang jelas. Bisa juga kita beri istilah produk semacam ini sebagai “produk abu-abu”. Jika Anda banyak uang, dan ingin sedikit melepas keinginan tahuan, boleh juga iseng-iseng membeli sebuah produk yang Anda belum mempunyai data pasti tentang produk tersebut. Jika beruntung, harga yang Anda bayar sesuai dengan manfaat yang didapat. Jika kurang beruntung, anggap saja uang hangus. Produk yang ditawarkan oleh Gee Cosmos (PT Gee Cosmos Indonesia), bolehlah disamakan dengan produk abu-abu tersebut, jika hanya membaca iklannya saja, yang muncul hampir setiap hari selama empat bulan terakhir. Mengapa demikian? 1. Tidak ada penjelasan lebih detil tentang produk yang ditawarkan. Iklannya hanya memuat informasi peluang usaha yang menjanjikan keuntungan. 2. Pendapatan rata-rata per bulan Rp 6 juta sampai Rp 10 juta. Apa maksudnya? Apakah pendapatan minimal per bulan Rp 6 juta dan pendapatan maksimal Rp 10 juta? Bagaimana mengukur pendapatan rata-rata seperti ini, jika bisnis ini baru muncul di Indonesia? 3. Apakah pendapatan di atas berarti laba atau penjualan? 4. Tidak dijelaskan apa, bagaimana, dan siapa pemili PT Gee Cosmos tersebut? Informasi ini penting untuk menetahui reputasi pemilik bisnis. Hanya disebutkan dalam iklan itu sebuah foto pria dengan keterangan chairman Genta Ogami. Siapa gerangan orang ini, tidak ada keterangan lebih lanjut. 5. Tidak jelas juga dari mana keuntungan bagi peminat bisnis ini mendapat keuntungan. Masih ada beberapa point lagi yang bisa dipertanyakan dari iklan Gee Cosmos itu. Barangkali semua keraguan di atas, bisa terjawab dari brosur gratis yang dijanjikan dikirimkan oleh penyelenggaranya bagi yang mengirimkan data diri ke mereka. Persoalannya adalah apakah informasi tersebut bisa dipercaya? Sebab, informasi tersebut datang secara sepihak dari mereka. Tidak ada pembanding. Jalan lain untuk menghilangkan keraguan terhadap produk abu-abu tersebut adalah membaca ulasan atau laporan oleh pers tentang produk tersebut. Sayangnya, sampai sekarang mereka tidak pernah berbicara kepada pers, tanpa sebab yang jelas. Sikap ini bisa diterjemahkan bahwa mereka menyembunyikan sesuatu yang belum bisa dikemukakan kepada pers. Apa itu? Hanya mereka yang tahu. Kalau ada orang bertanya kepada saya, apakah harus atau boleh mengikuti program yang ditawarkan? Atau membeli produk yang diiklankan melalui iklan yang gencar ini? Jawabannya jelas: tidak, selama belum ada keterangan yang obyektif tentang usaha atau produk ini. Alasan tambahannya adalah: dari mana mereka mendapat untung, dan kemudian membagikannya lagi kepada peserta, jika setiap hari mereka membelanjakan uang banyak sekali untuk iklan di Kompas dan media besar lain. Sementara itu, tidak jelas apa sebenarnya yang mereka jual. |
Tampilkan postingan dengan label Bedah Bisnis Renald Kasali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bedah Bisnis Renald Kasali. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 Juni 2008
Mengintip Gee Cosmos
Label:
Bedah Bisnis Renald Kasali
Senin, 23 Juni 2008
Chairul Rivai bisa menyalip Gajah Mada ?
Anda pernah mampir ke restoran Cwie Mie Malang (CMM)? Walaupun namanya ada kata Malang, tapi restoran ini tidak beralamat di kota Malang, Jawa Timur, dan lebih banyak di Jakarta. Restorannya sederhana, terbuka, tanpa AC, tapi tidak panas karena banyak angin. Sebagai franchise lokal, ia bisa disebut sukses besar. Biasanya berada di dekat pemukiman, dan di pinggir Jakarta, atau dekat tol lingkar luar Jakarta. Rully tampaknya mendekati pembeli sampai ke depat rumahnya, ketimbang masuk mal. Karena itu, pula barangkali mata dagangannya relatif murah ketimbang makanan di mal. Dagangannya boleh dibilang campuran makanan tradisional mie ayam dan steak, dan sejumlah menu lainnya. Semua sama di semua cabang. Ada makanan ringan dan aneka minuman. Dibandingkan dengan restoran mie ayam yang sejenis – Bakmi Gajah Mada, Bakmi Gang Kelinci, dan Bakmi Gindangdia, sekedar menyebut Mie yang terkenal di Jakarta—CMM jauh lebih agresif membuka cabang. Tapi, jangan dikira, Rully asal membuka cabang. Rully tidak saja melihat kemampuan finansial calon mitranya, tapi juga melihat tingkat keseriusan calon investor. Dan menilai apakah calon rekanannya itu bisa dipercaya. Tapi, yang jelas, berbeda dengan para pengusaha makanan sejenis mie ini, Rully jauh lebih rasional dalam mengembangkan bisnisnya. Mulai dari Bawah Ketika lulus SMA di Malang, Chairul Rivai tidak seperti teman-temannya yang lain. Ia memilih sekolah yang tidak popular: perhotelan di Bandung. Jurusan yang dipilihnya adalah makanan, setelah lulus jadi koki. Menurut teman-temannya, profesi ini gajinya lebih besar ketimbang jadi front office, atau jabatan lain di sekolah perhotelan itu. Tetapi, ketika bekerja mulai berbeda dengan teman-teman sekerjanya. Ia merasakan, bila hanya jadi pegawai, suatu saat ia akan ditendang oleh majikan jika tidak kuat bekerja lagi, atau tidak sehat. Pikiran ini menggelitiknya, dan mendorongnya membangun usaha sendiri. Usaha yang dibangunnya tidak jauh dari keahliannya yang telah digelutinya sejak selepas SMA: di dunia makanan. Untuk membangun bisnis, rupanya Rully –nama akrab Chairul Rivai—memetik pengalaman yang banyaks ekali sepanjang ia bekerja: di Kemchick bersama Bob Sadino, Restoran milik Rini Suwandi (sekarang Memperindag), Indofood, dan beberapa restoran franchise asing. Ketika bekerja di Bob, kreativitasnya sebagai pengusaha sudah tampak: ia menciptakan produk baru yang ketika itu belum ada. Misalnya daging berbumbu, yang siap di masak. Juga salad dalam kemasan. Bakat dagangnya baru tampak jelas, ketika pertama kali merintis usaha bersama temannya orang India. Si India dimintanya menelpon ibu-ibu Dharwa wanita yang ketika itu sedang marak. Di depan kumpulan ibu-ibu dharma wanita yang sedang arisan Rully mengadakan demo masak, yang tentu saja menggiurkan bagi wanita yang pada umumnya gemar memasak. Dengan cara seperti ini pula, awalnya Rully mengembangkan Cwie Mie. Sekarang usahanya itu boleh dibilang sukses. Ia mengembangkan dengan cara franchise. Sudah memiliki 10 cabang di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Padang. Semua kebutuhan pokok, termasuk mie, berasal dari Rully. Konsep restoran dibuat sederhana dan terbuka. Selain menarik, juga menghemat listrik. Peralatan dapur pun tidak perlu yang stainless steel. Panci alumunium pun cukup, karena tidak mempengaruhi rasa. Sekarang, satu restoran bisa menghasilkan Rp 150 juta sebulan, dan ada yang kurang dari itu. Sehingga total ia mengumpulkan sedikitnya Rp 750 juta dalam sebulan. |
Label:
Bedah Bisnis Renald Kasali
Bisnis dan Otonomi Daerah
Minggu lalu, di Program Studi Ilmu Manajemen Pascasarjana Universitas Indonesia, saya mengundang sejumlah eksekutif, usahawan, gubernur, dan bupati untuk mendiskusikan bagaimana respons dunia usaha terhadap pelaksanaan otonomi daerah (otda). ”Every beginning is difficult,” setiap hal baru pasti sulit. Begitulah pesan para usahawan kepada para bupati agar jangan menyerah.
Bagi dunia usaha, respons pemerintah daerah yang berbeda-beda di setiap kabupaten cukup merepotkan. Tapi, tentu saja bukan cuma kesulitan yang mereka temui. Ada kalanya ditemui juga bupati yang ”probisnis”. Mereka ini biasanya adalah mantan usahawan yang sekarang mewirausahakan pemerintahannya. Mereka mendorong pengambilan keputusan yang cepat dan sangat berhati-hati terhadap pengenaan retribusi.
Ciri lainnya adalah mereka tidak cengeng begitu melihat pembagian duit dari pemerintah pusat hanya cukup untuk membayar gaji karyawan. Bagi mereka, yang harus disejahterakan pertama-tama adalah rakyatnya, bukan pemda. Namanya juga sedang berada pada tahap membongkar, maka yang terlihat adalah pemerintahan daerah dengan segala ketidakteraturan dan kekacauan. Nanti tentu akan tampak mana bupati yang cakap dan mana bupati yang salah kamar.
Bupati-bupati yang salah kamar cenderung sangat reaktif terhadap tekanan-tekanan keuangan yang ada di wilayahnya. Mereka tidak punya keberanian mengambil langkah tidak populer, karena tidak yakin terhadap masa depannya. ”Pemerintah itu bergerak di bidang bisnis informasi,” demikian kata Michael R. Nelson, Direktur Kebijakan Teknologi pada Federal Communications Commission (FCC).
Itu sebabnya di negara-negara maju pemerintahnya menanamkan investasi besar-besaran untuk menyajikan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat. Informasi tentang cuaca, pajak, hasil-hasil penelitian, angka-angka statistik, perubahan penduduk, potensi usaha, sumber daya alam, susunan pemerintah, nama-nama pejabat dan pengusaha, rencana pemerintah ke depan, fasilitas yang tersedia, kondisi keuangan pemerintah, jumlah bank dan uangnya yang berputar, dan lain sebagainya. Informasi-informasi itu digunakan untuk menjawab pertanyaan ”Mengapa kita membutuhkan pemerintah?” Jawabannya adalah karena kita membutuhkan rasa aman, nyaman, dan sejahtera.
Data tentang Rusia malah lebih tersedia Bagi dunia usaha, informasi adalah faktor produksi yang sama pentingnya dengan modal. Bahkan, informasi mendahului datangnya modal. Karena tidak ada informasi yang jelas, Indonesia sekarang menjadi pengimpor kulit kina. Padahal dulu Indonesia adalah eksportir kina terbesar. Petani yang putus asa menebang pohon kina, menggantinya dengan kopi ketika harga kina anjlok. Sekarang, ketika harga kulit kina naik, tak mudah menanamnya kembali karena dibutuhkan waktu panjang untuk memanennya kembali.
Seorang investor lain menghubungi bupati dan menyatakan kesediaannya membuka lahan sekian ratus hektare untuk suatu jenis tanaman. Setelah diteliti dan teknologinya ada, bupati mendukung, barulah dimulai riset untuk mengembangkan. ”Karena keahlian tidak ada, kami berangkat ke Thailand, belajar di sana. Belakangan kami tahu riset seperti itu sudah ada di salah satu balai riset di Bogor,” ujar pengusaha tadi. Padahal, di Thailand mereka sudah mengeluarkan biaya riset ratusan ribu dolar. Mengapa hal itu terjadi? Karena di sini tidak ada informasi itu.
Pengusaha ternyata lebih mudah mendapatkan informasi tentang potensi usaha di Rusia dan India ketimbang di kabupaten-kabupaten di Indonesia. Mengapa pemda kabupaten tidak mulai dengan mengumpulkan dan menyebarkan informasi yang dimilikinya? Mungkin mereka juga tidak tahu, tapi mungkin juga tidak merasa perlu untuk tahu. Upaya mencari tahu dengan mengumpulkan data-data itu, lalu menyediakannya lewat media-media yang mudah diakses seperti internet adalah awal untuk menggerakkan perekonomian daerah.
Bagi investor yang menggarap seluruh wilayah Nusantara, bangkitnya daerah-daerah tentu merupakan kabar baik sekaligus kabar buruk. Kabar baik karena izin investasi di daerah bisa lebih cepat diperoleh kalau bupatinya ”probisnis”. Kabar buruknya, ya apalagi kalau bukan perilaku bupati yang ”antibisnis” dan hanya peduli terhadap kesejahteraannya sendiri. Bagi marketer yang memasarkan barang-barang massal kebutuhan sehari-hari, tentu ini saatnya melakukan resegmenting, relocation, dan redifferentiation.
Bagi pemda, keunggulan kompetitif alias competitive advantage pada dasarnya adalah fungsi dari strategi pemasaran, implementasi, dan konteksnya. Ketiga faktor ini harus sama kuatnya. Tanpa memperhatikan konteks, misalnya, strategi pemasaran yang kuat adalah sia-sia. Demikian pula tanpa kepemimpinan yang kuat, implementasi tidak akan berjalan dengan baik. Dalam hal ini, daerah harus mengembangkan mekanisme yang pas untuk melahirkan pemimpin yang cocok dengan tuntutan zaman. Bisnis hanya merespons positif kalau mereka membaca pemda-pemda itu dikelola orang-orang yang memang layak memimpin dan memiliki akar kuat.
Label:
Bedah Bisnis Renald Kasali
HORMAT
| INGATAN paling jelas dari masa sekolah saya adalah hari pertama, ketikadiantar Ibu. Saat itu semuanya terasa asing. Terutama ketika belajar memberihormat kepada guru, Sang Saka Merah-Putih, dan lagu kebangsaan IndonesiaRaya. Pelajaran terpenting mungkin adalah kedisiplinan berhormat. Itulahyang banyak mengubah perilaku saya kemudian.Belajar menghormati merupakan jurus bisnis yang penting pula. Pekan lalu, diHong Kong, saya sarapan di sebuah warung bubur. Tempatnya sangat sempit.Orang berdesak-desakan. Beberapa konsumen tak sabar menunggu. Saya kagum melihat cara mereka makan. Bubur panas mendidih itu habis diseruput kurangdari lima menit. Saya butuh lebih dari 15 menit.Bagi orang Hong Kong, waktu memang komoditas sangat berharga. Mereka sangatmenghormatinya. Jangan heran bila melihat orang Hong Kong berjalantergesa-gesa, saling mendahului. ! Lain dengan kita. Rasa hormat kitaterhadap waktu tak setebal mereka. Sampai-sampai di masyarakat kita beredaristilah populer jam karet. Beberapa buku petunjuk bisnis di Indonesia mencantumkan fenomena jam karet sebagai sebuah budaya yang dianut banyak orang. Sebagai bangsa Indonesia, saya malu akan hal ini.Rasa hormat perlu juga kita tanamkan terhadap uang atau duit. Dalam hal ini,kita punya prestasi buruk. Ke mana-mana saya pergi, bangsa kita dikenal bukan sebagai bangsa irit. Di Arab, misalnya, beredar cerita bahwa jamaahhaji kita adalah konsumen royal yang senang belanja perhiasan. Di Singapura,konsumen Indonesia dikenal doyan belanja. Di California, kita bisa mengenalimobil mahasiswa Indonesia yang terkenal bergaya mewah dan berkaca gelap.Saya sering minder melihat "prestasi" ini. Saya baru saja mendapat kado, sebuah buku karangan Martin S. Fridsonberjudul How to be a billionaire. Buku itu diberikan sebagai sebuah sindirankarena obsesi ! saya yang ingin mencari istri kaya raya. Buku ini menarik.Di buku itu ada kutipan Franklin D. Roosevelt. Bunyinya, "Kebahagiaan kitabukan karena kita memiliki banyak uang. Namun justru pada prestasi danusaha-usaha kreatif dalam mencarinya." Orangtua kita berkali-kali mengingatkan betapa sulitnya mencari uang. Nasihat itu semata-matadikumandangkan agar kita belajar lebih banyak menghormati uang, dan hidupirit.Hal lain yang sering juga saya sesali adalah betapa saya acapkali meremehkan lawan. Padahal, seorang mentor pernah memberikan wejangan: dalam pertarungan bisnis, teman terbaik kita seringkali adalah justru musuh-musuh kita. SamWalton, pendiri perusahaan raksasa retail Amerika terkenal, Wal-Mart, pernahberkata: "Kebanyakan trik saya ditiru dari orang lain."Kalimat tersebut merupakan ucapan penuh keberanian dari seorang yang punyarasa hormat begitu tinggi terhadap musuh dan lawan mereka. Tak mengherankan bila salah satu komentar Gus Dur ketika! lengser adalah kesalahannya dalam meremehkan kekuatan lawan. Belajar menghormati lawan sering sulit kitalakukan. Dalam bisnis, ini sering jadi kunci menentukan.Tiga hal di atas, kemampuan menghormati waktu, uang, dan lawan, tak jarangsaya temukan sebagai tiga serangkai ciri khas para entrepreneur kaliberatas. Belajar menghormati waktu, uang, dan lawan tidaklah mudah. Perlu kerendahan hati luar biasa.Saya bersyukur, di sekolah dulu saya punya guru yang secara pas menunjukkan kepada saya metode yang tepat. Walaupun demikian, saya masih harus terusbelajar. Semuanya karena alasan yang sederhana. Waktu dan perubahan makincepat. Nilai uang kita makin kecil karena inflasi dan krisis ekonomi. Lawan dan kompetitor kita makin banyak dan canggih. Rasa hormat kita terhadapwaktu, uang, dan lawan jelas makin kompleks dan sulit. Kita perlu menguraskerendahan hati kita hingga ke dasar paling dalam. Kafi Kurnia |
Label:
Bedah Bisnis Renald Kasali
Senin, 16 Juni 2008
DREAM SOCIETY
Banjirnya informasi yang didorong oleh teknologi menimbulkan banyak pertanyaan seputar apa yang terjadi selanjutnya. Setelah abad TI lalu apa lagi? Rolf Jensen percaya bahwa informasi-informasi itu akan membentuk story (cerita) dan mengkristal dalam bentuk-bentuk emosional. Mengacu pada studi yang dilakukan Copenhagen Institute for Future Studies, Jensen menemukan gambaran konsumen masa depan.
Kata studi itu, pertumbuhan konsumsi di masa yang akan datang akan bertumpu pada hal-hal yang sifatnya nonmaterial. Artinya, konsumen akan lebih menekankan pada aspek-aspek di luar benda itu sendiri. Telepon, mobil, dan makanan memang penting, tapi produk-produk itu akan bergerak lebih cepat bila diperkaya dengan story dan emosi. Diyakini bahwa cerita suatu produk akan menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan konsumen.
Opera si Bongkok atau cerita Si Bongkok dari Notredame menggerakkan turis ke Paris menuju Katedral Notredame. Demikian juga kisah lukisan Leonardo da Vinci dan arsitek Gustave Eiffel. Semua cerita itu menggerakkan pasar secara emosional seperti halnya Anita Roddick menggerakkan The Body Shop. Dalam kehidupan modern, peranan cerita menjadi sangat penting karena manusia tidak bisa menerima mesin (komputer) begitu saja. Mesin adalah dingin, tidak memberikan sentuhan personal. Sebaliknya, cerita memberikan khayalan yang bisa dibicarakan bersama dan menimbulkan ikatan emosi yang kuat. Dengan product story yang menyentuh, suatu produk, ide, jasa, atau tempat bisa menjadi suatu kebanggaan, bahkan hero bagi seseorang.
Jensen menemukan setidaknya sudah terbentuk enam pasar besar masyarakat pemimpi ini. Saya yakin banyak di antara pembaca yang bisnisnya berada di seputar dream society namun belum memahami betul pentingnya product story dalam mendesain produk dan komunikasinya. Mungkin, setelah membacanya, Anda akan mempunyai gagasan-gagasan baru yang brilian. Keenam pasar tersebut: (1) the market for adventure, (2) the market for togetherness, friendship and love, (3) the market for care, (4) the who-am-I market, (5) the market for peace of mind, dan (6) the market for convictions. Dua pasar pertama akan saya bahas dan empat berikutnya dalam tulisan selanjutnya.
Ada peluang profesi baru: penutur cerita
Pasar petualangan belakangan ini tampak jelas tumbuh secara spektakuler. Beberapa waktu lalu, di hadapan kita semua disajikan berita tentang seorang pengusaha yang bersedia membayar US$ 20 juta untuk menjadi wisatawan di angkasa. Mengapa Dennis Tito berani melakukan petualangan berbahaya itu? Salah satunya adalah tersedianya informasi yang lengkap tentang jagat raya, keselamatan, serta teknologi yang tersedia.
Memang, sejak internet merambah dunia, cara manusia mempelajari informasi perjalanan mulai bergeser, dari buku-buku perjalanan wisata ke diskusi mendalam (consumer to consumer) dalam suatu komunitas di dunia cyber. Cerita-cerita tentang angkasa raya, seperti juga tentang Bali dan Mesir, begitu mudah ditemui di internet. Kalau masih kurang jelas mereka bisa melakukan diskusi dengan para astronot atau mantan astronot yang terjalin di beberapa cyber community.
Dennis Tito cuma satu contoh. Arloji Rolex adalah contoh lainnya. ”Kalau Anda mencari arloji karena fungsinya saja, yaitu ketepatan waktu, cukup membayar US$ 10. Tapi, bila Anda ingin mendapatkan lebih dari itu, harus membayar US$ 15.000 untuk cerita dan getaran-getaran emosionalnya,” kata orang-orang Rolex. Rolex mengembangkan konsep Spirit of Enterprise dengan mengeluarkan Rolex Award for Enterprise Journal. Dalam jurnal itu disajikan beberapa cerita yang dikirim oleh achiever - begitu Rolex menyebutnya- tentang pengalamannya meraih prestasi bersama Rolex. Cerita-cerita nyata itu lalu diedarkan di segmen super-premium.
Hal yang sedikit berbeda nuansanya ditemui dalam pasar togetherness, friendship, dan love. Cinta adalah suatu bentuk ekspresi manusia yang biasanya dilengkapi dengan seremoni, dan benda-benda artifak. Hampir semua parfum premium dipasarkan dengan pendekatan ini, dan belakangan telekomunikasi juga melakukan komunikasi dengan pendekatan togetherness. Telepon bukanlah teknologi yang dingin, melainkan suatu bentuk ekspresi komunikasi yang mendekatkan manusia pada jarak yang jauh sekalipun.
Singkatnya, dream society mempunyai karakter yang khas dan digerakkan oleh cerita untuk mengonsumsi sesuatu. Tentu saja orang-orang bisnis belum terlatih baik dalam mendesain produk maupun komunikasinya untuk menangkap segmen ini. Dalam society ini jelas dibutuhkan suatu profesi baru: story teller. Anda berminat? ………..(to be continued)
Dream Society (cont.)
Artikel lalu saya sudah memaparkan dua jenis pasar dalam dream society yaitu pasar togetherness, love, and friendship, dan pasar petualangan (adventure for sale).
Sekarang marilah kita teropong pasar yang disebut Rolf Jensen sebagai Who-am-I Market. Ini adalah sebuah pasar jati diri, yaitu cara seseorang menyatakan self atau dirinya kepada orang lain seperti bunyi pesan iklan Stanley Adam: “pakaian adalah suatu bentuk pernyataan diri”. Pasar ini tentu tidak terbatas pada pakaian saja. Segala sesuatu yang melekat pada tubuh kita (aksesori, jam tangan, topi, tato, pena, dasi, tas, ikat pinggang, sepatu) sampai benda-benda yang sering ikut kita (mobil dan rumah) adalah bagian dari pernyataan diri seseorang. Tapi, jati diri seseorang tidak hanya ditentukan oleh benda-benda duniawi dan hedonis itu melulu. Jati diri seseorang dinyatakan pula oleh hal-hal yang sifatnya intangible seperti pendidikan (termasuk gelar-gelarnya, otaknya, cara mengungkapkan pikiran-pikirannya), cara berjalan, kepemimpinan dan komunitas-komunitas yang diadopsinya.
Pasar ini bagi sebagian orang adalah misteri besar. Namun, begitu dikuak nyatalah bahwa misteri itu sebuah kerajaan besar yang punya keinginan membeli sangat besar. Komedian Dedy Gumelar yang lebih dikenal dengan nama Miing pernah mengatakan kepada saya, nama saya Miing. Saya mau naik taksi, Mercy, bus, atau Karimun sekalipun orang akan tetap memanggil saya Miing. Begitu seseorang berani mengatakan dan melakukan hal tersebut, tentu saja kita melihat sebuah jati diri yang kuat. Sebagai self, orang itu sudah jadi.
Coba bandingkan dengan orang-orang yang setiap hari kita saksikan senang sekali menggelembungkan dirinya. Di suatu kota di negeri tercinta ini pada saya pernah ditunjukkan seorang pengusaha yang baru saja membeli gelar doktor. Gelar itu dipajangnya di media masa dan kartu bisnisnya. Bahkan, di berbagai kegiatan MC diminta membacakan gelarnya dengan lengkap. Padahal gelar itu dibeli dari sebuah lembaga di Jakarta, yang dikenal rajin beriklan mengobral gelar macam-macam. Kalau tidak salah harga gelar itu cuma empat juta rupiah. Saya lihat sudah banyak dreamer yang kurang punya rasa percaya diri membelinya. Di kalangan orang yang memperoleh gelar doktor dengan susah payah saya hitung ongkos sekolah saya selama lima tahun sekitar satu miliar rupiah. Tentu saja orang-orang itu diterima dengan cekikikan: lucu dan menggelikan. Gelar beliau justru mengungkapkan aib: seorang dreamer yang tidak punya rasa percaya diri dan membutuhkan pengakuan dari orang lain. Dengan kata lain, pernyataan diri orang itu belum kuat, hidupnya rapuh, akarnya tidak kokoh.
Kalau Saudara menonton di layar kaca pada hari Kamis malam (31 Mei) lalu. Lihatlah betapa bangganya Andrie Wongso mengakui dirinya hanya bergelar SDTT atau Sekolah Dasar Tidak Tamat. Andrie (47) kini menjadi miliuner dengan menjual kartu-kartu motivasi (Harvest) yang juga ditargetkan kepada dream society. Ia menjadi motivator olah ragawan nasional yang hampir menyerah sehingga bangkit kembali sebagai juara.
Hal-hal yang sifatnya intangible ini tentu banyak Saudara temui dalam kehidupan kelas menengah sehari-hari. Manusia bukan hanya mencari isi, tapi juga membeli kemasan. Ada yang bergabung dengan Lions Club atau Rotary Club untuk mengembangkan pribadinya, tapi pasti ada pula yang mencari kemasan. Ada yang menyumbang karena ikhlas, tapi ada yang menyumbang (pribadi) sambil menunjukkan wajahnya di depan kamera televisi. Demikian pula orang-orang lugu tak mengerti politik yang tiba-tiba dibicarakan orang sebagai calon direktur karena katanya punya kartu anggota di salah satu partai. Mereka semua adalah dreamer: bisa dreamer ikhlas, bisa pula dreamer tertawaan.
Dalam dunia hedonis benda-benda sudah lama dipakai untuk memperkuat self seseorang. Champaign Moot & Chandon menjadi terkenal setelah menjangkau pasar ini. Story yang diambil adalah ucapan panglima perang Napoleon Bonaparte: “In victory you deserve it, in defeat you need it”. Champaign ini disimbolkan dalam bentuk Grand Prise Racing Story. Pemenang lomba balap mobil dianugerahi sampanye. Sampanye dikocok di depan publik, dan muncratan gasnya disemburkan ke udara dengan disaksikan televisi dan jutaan konsumen.
Jam tangan Swatch punya konsep Irony dan Swatch Country.
Gucci yang dibuat tahun 1920 di Florence Italia memiliki konsep Stay Small to remain great, dan sekarang outlet-nya sudah mendekati 200 di seluruh dunia.
Levi' Strauss dengan pasar sebesar US$ 10 miliar lebih menjangkau remaja perempuan dengan konsep The Princes dream, the pony dream, the pretty bride dream.
Semua itu adalah sedikit dari contoh betapa sebuah story dapat memperkaya value added suatu produk yang ditargetkan pada jati diri Saudara.
Semua ini tentu terpulang pada jati diri Saudara masing-masing. Sebagian orang masih membeli semua perlengkapan self itu untuk mengisi dirinya. Sebagian lagi membeli karena fungsinya. Yang lain masih membeli karena harganya yang murah. Ada juga yang membeli karena butuh tempelan. Itu pun pasarnya terbagi dua, yaitu mereka yang mengutamakan tempelan dan mereka yang menjadikannya sekadar pelengkap, pengirim sinyal (extended self). Penganut pasar Who-am-I ini ada baiknya merenungi sajak yang ditulis seorang napi di Amerika ketika dia akan dihukum mati. Sajak ini ditemukan beberapa saat setelah napi itu dieksekusi. Judulnya Man in the Mirror. Simaklah isinya:
Jika Anda berjuang dan mendapatkan apa yang Anda mau Dan dunia membuat Anda menjadi raja sehari Pergilah ke kaca dan tataplah dirimu Dengarkan apa yang dikatakan oleh orang dalam kaca, Ia bukanlah bapak, ibu atau istri Yang selalu harus berpihak kepadamu Orang yang sangat berpengaruh terhadap dirimu Adalah orang yang menatapmu di kaca tersebut
Ia adalah orang yang harus Anda layani Karena ia dan Anda yang menjalani sampai akhir Dan Anda telah berhasil melalui ujian terberat dan paling berbahaya, Jika Anda dan orang dalam kaca tersebut berhasil menjadi teman.
Anda bisa saja menipu seluruh dunia Serta membuat semua orang bertepuk tangan Namun yang Anda dapat hanyalah sakit hati dan air mata, Jika Anda menipu orang di dalam kaca. (Anonim)
This article was prepared by: Rhenald Kasali
Label:
Bedah Bisnis Renald Kasali
Minggu, 15 Juni 2008
Awalnya selalu bukan oleh uang
Saat ini banyak sekali pemerintah daerah kabupaten yang mengeluh tak punya uang. Anggaran yang ada hanya cukup untuk bayar gaji karyawan. Mana ada uang untuk membangun sekolah dan fasilitas publik? Mana uang untuk menggali potensi sumber daya alam? Bupati birokrat yang biasa hidup dari atas tentu akan berteriak minta agar jatah uangnya ditambah.
Tadinya saya kira yang kesulitan saja yang berteriak, tapi belakangan saya dengar daerah-daerah kaya ternyata juga melakukan hal serupa. Apa yang mereka perjuangkan? Betul, uang! Seakan-akan tanpa uang yang besar mereka akan mati dan daerahnya akan berontak.
Betulkah tanpa uang dan sumber daya alam suatu kabupaten akan mati kelaparan? Tentu saja tidak. Saya kira semua tentu tahu Jepang adalah bangsa yang tak punya apa-apa, tapi rakyat di negara ini hidup sejahtera. Manusia yang tak mau hidup miskin tentu akan memutar otaknya. Jadi, kata kuncinya adalah akal. Tanpa modal, tapi bisa kaya raya dan rakyatnya sejahtera.
Sejarah dunia usaha sesungguhnya juga kaya dengan cerita seperti ini. Lahirnya pengusaha-pengusaha besar selalu dimulai bukan dengan kekuatan uang, tapi akal dan nama baik; bukan akal-akalan. Hampir setiap minggu saya mengundang pengusaha sejati dalam sebuah talkshow di radio M97 di Jakarta. Anda tahu apa kesimpulannya? Benar: 99% mengatakan modal awalnya bukan uang. Mereka jadi besar karena akal.
Di dunia internasional, akal juga pegang peranan penting. Sebuah perusahaan dengan aset jutaan dolar bisa berpindah tangan begitu saja dalam waktu singkat ke tangan orang-orang yang panjang akal.
Sebaliknya, orang yang kurang akal bisa kehilangan segala-galanya. Mereka cuma mengutak-atik angka, lalu mencari penjamin yang berani. Bayarnya ternyata juga tak pakai uang. Apakah mereka penipu? Saya tidak terlalu tahu persis, tapi kalau ditelusuri rangkaiannya, Saudara-Saudara bisa berdecak kagum. Kok bisa membeli tanpa uang. Sayang, contoh-contoh yang ada di negara kita lebih banyak warna penipuannya ketimbang akalnya, sehingga tidak banyak yang bisa dijadikan contoh.
Salah satu contoh yang sedang banyak diidolakan kaum muda dunia adalah Masayoshi San, CEO dan founder Softbank Corporation-Jepang. Orang Jepang keturunan Korea ini segera kembali ke Jepang setelah menyelesaikan studinya di University of California-Berkeley. Sejak kuliah ia memang sudah dikenal sebagai pria yang panjang akal.
Awalnya tak punya produk dan tak punya uang. Suatu ketika ia terlihat membuka-buka buku direktori yang berisi nama-nama pengajar di kampusnya. Apa yang ia cari? Ia mencari profesor microcomputer yang mau diajak bekerja sama. Ia katakan bahwa ia tak punya uang, tapi punya gagasan-gagasan jenius. Gagasan-gagasan itu katanya harus unik, tidak mudah ditiru orang lain, dan dalam 10 tahun ke depan dapat menjadikan perusahaan sebagai pemimpin industri.
Sebagian tentu saja menolak tawarannya. Tapi, begitu coretan-coretannya lebih jelas, beberapa mau bergabung. Kelak, karya cipta itu dibeli Sharp seharga US$ 1 juta. Produknya bernama Sharp Wizard, yaitu komputer sebesar kalkulator yang berfungsi sebagai kamus untuk delapan bahasa. Setelah uang didapat, barulah orang-orang itu dibayar.
Hal serupa dilakukannya ketika kembali ke Jepang. Ia selalu mengatakan: ”Saya hanya punya sedikit uang dan pengalaman bisnis, tapi saya benar-benar memiliki keinginan yang meluap-luap untuk sukses.” Apa yang ia lakukan?
Dalam sebuah pameran elektronika yang besar ia menyewa sebuah stan besar, sebesar stan yang dibangun merek-merek terkenal: Sony, Toshiba dan sebagainya. Ia melihat banyak komputer yang mulai dijual tapi tidak ada software-nya. Sementara itu orang-orang muda pembuat software tidak tahu bagaimana menjualnya. Ia lalu mengundang para pembuat software berpameran di stan itu. Free, gratis. ”Saya buatkan brosurnya dan lain-lain. Saya tak punya produk, tak punya banyak uang, tapi saya berikan mereka pameran gratis. Mereka bilang saya bodoh. Tak punya uang tapi memberikan tempat gratis. Oke, saya akan jalan terus sampai nanti mereka bisa mengerti apa artinya bisnis ini.”
Masayoshi San benar. Beberapa bulan kemudian order datang, yaitu dari Joshin Denki, sebuah jaringan penjual PC terbesar di Jepang. Ia tidak mengenal Joshin Denki, tapi Denki bilang tanyakan pada Sharp, karena Joshin Denki adalah penjual Sharp terbesar di Jepang. Sharp ternyata memberikan rekomendasi, dan terjadilah deal. Setelah Denki menjual produk-produk Softbank, mau tidak mau yang lain juga ingin menyalurkan produk Softbank.
Itulah awal penting bagi seorang entrepreneur. Akal pertamanya diarahkan untuk membangun reputasinya, brand-nya. Saya sungguh yakin ada beberapa bupati yang panjang akal seperti Masayoshi San. Mungkin daerahnya tidak cukup kaya, ia tidak punya banyak uang, tapi sadar betul sesuatu itu tidak selalu harus dimulai dari uang. Andai kata saja daerah-daerah bisa mendapatkan orang-orang panjang akal ini, daerahnya pasti akan menjadi sejahtera kendati pada awalnya semua pasti tidak mudah.
KONTAN, Nomor 50/V Tanggal 10 September 2001
Label:
Bedah Bisnis Renald Kasali
Langganan:
Postingan (Atom)