Oleh KH. Abdul Aziz Affandy
Rosullulloh SAW bersabda; “Ummat kami akan terpecah menjadi 73 (Tujuh Puluh Tiga) golongan dan semuanya akan masuk neraka kecuali satu yakni Ahli Sunnah wal Jama’ah". Apa yang menjadi penyebabnya? Mereka semua tidak bisa membersihkan diri dari musyrik kepada Alloh dan tidak mengakui Nabi Muhammad SAW adalah utusan Alloh.
Oleh karenanya marilah kita bersihkan diri kepada Alloh dengan 3 jalan :
Bersihkan diri secara ’aqidah (dalam berkeyakinan kepada Alloh). Gagal imannya meski masih ada keraguan dalam hati tentang keyakinan terhadap Alloh.
Bersihkan secara ‘ubudiyyah (dalam beribadah). Gagal ibadahnya bila melakukan sesuatu tanpa disertai ilmu agama. Rasa diri ahli ibadah, ziarah ke para wali di tiap tempat, ternyata meminta kepada wali.
Bersihkan hati dari kotoran dan dosa.
Manajemen manusia ada 3 :
1. Manajemen jasad. Tidur malam hari, kerja siang hari. Jangan dibalik yang akhirnya akan celaka.
2. Manajemen qolbu. Merancang hati, bagaimana caranya supaya sikap kita berbuat baik kepada orang lain? Jika ada orang yang menghina kita, lekaslah baca “Alhamdulillah” apa sebabnya? Sebab kita tidak akan tahu kekurangan & kejelekan diri kecuali ditemukan oleh orang lain maka kita harus membaca “Alhamdulillah” dengan datangnya hinaan itu kita jadi tahu kekurangan diri.
3. Manajemen interaksi antara diri dengan Alloh (ibadah)
Alloh Maha Bersih dari segala rupa kejelekan dan sangkaan orang kafir yang berprasangka bahwa Alloh mempunyai anak (Nabi Isa) dan isteri (Siti Maryam). Padahal Alloh Maha Bersih dari segala rupa prasangka jelek dari makhluk-Nya.
Alloh SWT berfirman dalam surat al-Hasyr ayat 23;
"Dialah Alloh yang tiada tuhan selain Dia, Raja yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengkaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan".
Tampilkan postingan dengan label Riyadhoh Dewan Kyai Ponpes Miftahul Huda Pusat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riyadhoh Dewan Kyai Ponpes Miftahul Huda Pusat. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 01 Agustus 2009
Fluktuasi Iman
KH. Jaja Abdul Jabbar
"Iman itu bertambah dengan banyak melakukan taat dan berkurang karena melakukan maksiat" (Tafsir al-Baidhowi, jilid 1 hal. 380).
Ulama berbeda pendapat mengenai iman, apakah iman itu bisa bertambah dan berkurang atau tidak. Menurut sependapat bisa bertambah dan berkurang, menurut pendapat lain tidak bisa bertambah dan berkurang.
Ulama yang berpendapat bahwa iman bisa bertambah dan berkurang berdasarkan kepada dalil-dalil berikut ini :
1. Dalil al-Quran, diantaranya surat al-Anfal ayat 2 :
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Alloh maka gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal".
Imam Bukhari dan imam lainnya menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa iman bisa bertambah dan saling mengungguli dalam hati.
2. Sebagian besar ulama mengidentikkan iman dengan taat, berdasarkan kepada hadits Rosululloh SAW :
"Iman itu mempunyai 77 pintu, pintu yang paling atas adalah ucapan "Laa Ilaaha Illalloh" dan yang paling rendah adalah membuang duri dari jalan, dan malu itu merupakan cabang dari iman" dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim. (Tafsir Khozin, Juz 1 hal. 8).
Dengan demikian menurut pendapat pertama, pengertian iman di sini bukan kepada pokok utama dari iman itu sendiri, melainkan kesempurnaan amal, sebab derajat bertambahnya keimanan seseorang diukur dengan banyaknya melakukan amal baik. Sebaliknya kurang iman karena kurangnya melakukan amal baik, bahkan melakukan maksiat. Naudzubillahimindzalik. Karena itu iman bisa bertambah dan berkurang sesuai dengan ketaatan orang tersebut.
Pendapat kedua yang menyatakan bahwa iman tidak bisa bertambah dan berkurang mempunyai alasan dalam beberapa kitab dijelaskan, Iman adalah :
"Membenarkan dalam hati kepada segala sesuatu yang datang dari Nabi Muhammad SAW". (Syarah Safinatunnaja hal.8)
Berarti kalau iman berkurang maka kedudukan tashdiq (membenarkan) berubah menjadi syak (ragu-ragu). Perubahan kedudukan ini menyebabkan seseorang menjadi kafir, karena tidak ada perantara antara iman dengan kafir.
Dari dua pendapat tersebut yang diunggulkan adalah pendapat yang pertama, sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitab Jauharut Tauhid hal. 31 :
"Dan merupakan pendapat yang diunggulkan yaitu iman manusia bertambah dengan bertambahnya ketaatan kepada Alloh SWT".
Setiap Muslim diharuskan untuk senantiasa menjaga kesempurnaan iman yang tertancap di dalam hati dengan melakukan berbagai amal baik, sebab apabila iman terus dipupuk maka iman akan bersinar dan sinarnya memancar ke seluruh anggota tubuh pemiliknya, mata, tangan, kaki dan sebagainya.
Iman yang telah terpancar ke seluruh tubuh maka setiap anggota tubuh terasa berat untuk melakukan maksiat kepada Alloh SWT.
"Iman yang telah tertancap dalam hati seorang Mukmin, bagaikan sebatang pohon yang mempunyai beberapa tangkai".
Mudah-mudahan Alloh SWT. selamanya melimpahkan kekuatan kepada kita semua, untuk bisa meningkatkan keimanan dengan melakukan berbagai amal baik, amiin.
"Iman itu bertambah dengan banyak melakukan taat dan berkurang karena melakukan maksiat" (Tafsir al-Baidhowi, jilid 1 hal. 380).
Ulama berbeda pendapat mengenai iman, apakah iman itu bisa bertambah dan berkurang atau tidak. Menurut sependapat bisa bertambah dan berkurang, menurut pendapat lain tidak bisa bertambah dan berkurang.
Ulama yang berpendapat bahwa iman bisa bertambah dan berkurang berdasarkan kepada dalil-dalil berikut ini :
1. Dalil al-Quran, diantaranya surat al-Anfal ayat 2 :
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Alloh maka gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal".
Imam Bukhari dan imam lainnya menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa iman bisa bertambah dan saling mengungguli dalam hati.
2. Sebagian besar ulama mengidentikkan iman dengan taat, berdasarkan kepada hadits Rosululloh SAW :
"Iman itu mempunyai 77 pintu, pintu yang paling atas adalah ucapan "Laa Ilaaha Illalloh" dan yang paling rendah adalah membuang duri dari jalan, dan malu itu merupakan cabang dari iman" dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim. (Tafsir Khozin, Juz 1 hal. 8).
Dengan demikian menurut pendapat pertama, pengertian iman di sini bukan kepada pokok utama dari iman itu sendiri, melainkan kesempurnaan amal, sebab derajat bertambahnya keimanan seseorang diukur dengan banyaknya melakukan amal baik. Sebaliknya kurang iman karena kurangnya melakukan amal baik, bahkan melakukan maksiat. Naudzubillahimindzalik. Karena itu iman bisa bertambah dan berkurang sesuai dengan ketaatan orang tersebut.
Pendapat kedua yang menyatakan bahwa iman tidak bisa bertambah dan berkurang mempunyai alasan dalam beberapa kitab dijelaskan, Iman adalah :
"Membenarkan dalam hati kepada segala sesuatu yang datang dari Nabi Muhammad SAW". (Syarah Safinatunnaja hal.8)
Berarti kalau iman berkurang maka kedudukan tashdiq (membenarkan) berubah menjadi syak (ragu-ragu). Perubahan kedudukan ini menyebabkan seseorang menjadi kafir, karena tidak ada perantara antara iman dengan kafir.
Dari dua pendapat tersebut yang diunggulkan adalah pendapat yang pertama, sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitab Jauharut Tauhid hal. 31 :
"Dan merupakan pendapat yang diunggulkan yaitu iman manusia bertambah dengan bertambahnya ketaatan kepada Alloh SWT".
Setiap Muslim diharuskan untuk senantiasa menjaga kesempurnaan iman yang tertancap di dalam hati dengan melakukan berbagai amal baik, sebab apabila iman terus dipupuk maka iman akan bersinar dan sinarnya memancar ke seluruh anggota tubuh pemiliknya, mata, tangan, kaki dan sebagainya.
Iman yang telah terpancar ke seluruh tubuh maka setiap anggota tubuh terasa berat untuk melakukan maksiat kepada Alloh SWT.
"Iman yang telah tertancap dalam hati seorang Mukmin, bagaikan sebatang pohon yang mempunyai beberapa tangkai".
Mudah-mudahan Alloh SWT. selamanya melimpahkan kekuatan kepada kita semua, untuk bisa meningkatkan keimanan dengan melakukan berbagai amal baik, amiin.
Rabu, 25 Juni 2008
Sifat Manusa
Husnusdhon ka Alloh
Senin, 16 Juni 2008
Istiqomah Dina Pagawean Anu Dipikacinta ku Alloh
KH. Abdul Aziz Affandy
Tina sapalih tanda diri, aya dina tempat anu ditetepkeun ku Alloh, tegesna lain tina tempat anu salah ceuk Alloh nyaeta dimana-mana urusan dina ibadah (agama), kasalametkeun oge dina urusan kahirupan (dunya) kabiayaan.
Tina sapalih tanda diri, aya dina tempat anu ditetepkeun ku Alloh, tegesna lain tina tempat anu salah ceuk Alloh nyaeta dimana-mana urusan dina ibadah (agama), kasalametkeun oge dina urusan kahirupan (dunya) kabiayaan.
Anu kabeneran hirup seperti tadi, tong salah sangka yen anu keur dipigawe teh salah, balikta lakukeun eta pagawean kalawan saestuna tur jadikeun pikeun ladang amal ka Alloh SWT.Teu kanyahoan anu dilakukeun ku urang kiwari, jauh tina cita-cita anu baheula, kunaon aya di kaler padahal leumpang teh nyukcruk ka kidul? Cita-cita anu kapungkur teu kalaksanakeun, kapungkur anu dicita-citakeun jadi ajengan, naha jadi tukang gorengan?
Situasi keur kieu dimodifikasi (dipake kesempatan) ku syetan ku ngarahkeunna syetan ku ilustrasi bahwa yen ieu teh anu keur karandapan lain anu sanyatanya (sementara). Sahingga teu aya kasungguhan dina ngalakukeun anu keur karandapan, nu jadi tukang dagang teu sungguh-sungguh dina dagangna.
Padahal dina buktina rangkaian anu keur karandapan lain anu sementara, tapi ieu anu karandapan anu ngudukeun ka urang supaya sungguh-sungguh.Lamun rek dipariksa darah maka kudu aya alat paragi tensina, jang naon? Supaya boga kapastian yen ieu puyeng teh tina panyakit maag atawa darah tinggi, atawa budak panas, kudu aya termometer (alat paranti ngukurna), sabaraha derajat panasna?
Supaya kaluar tina kawaswasan anu eta kawaswasan dibangun ku syetan didedetkeun kana pikir jeung rasa urang supaya urang hirup teu puguh juntrung jauh tina kakuduan ceuk Alloh. Maka mushonnif kitab masihan barometer ka urang, keur naon? Supaya apal anu keur dipigawe ku diri eta bener tawa teu ceuk Alloh? Da aya bener aya siga bener, lamun siga pisan eta artina lain pisan, jiga monyet, artina eta anu disarupakeun lain monyet.
Dina masalah ieu ulama ahli sufi masihan barometer keur nganyahokeun urang ayeuna, naha aya dina kahirupan anu bener, atawa aya dina anu salah? Cirina urang geus bener menepati aturan ti Alloh nyaeta ; Dimana-mana Alloh nempatkeun dina hiji pagawean tapi eta pagawean teh salamet agamana jeung salamet darigamana, lamun salamet eta anu dua (agama & darigama), maka eta anu alus mungguh Alloh.
Min iqoomatillahi hirup anjeun kituna teh ditempatkeun ku Alloh. Anu jadi Kiai ulah hayang jadi tukang dagang, anu jadi tukang dagang ulah hayang jadi PNS, anu jadi PNS ulah hayang jadi wiraswasta, anu jadi tukang bajigur ulah aya bahasa "sementara we jadi tukang bajigur sambil nungguan panggilan gawe.
Mudah-mudahan urang bisa syukuran kana naon perkara anu dibikeun ku Alloh, Amiin ya Robbal Alamin
Menjiwakan Asmaul Husna As samii'u
KH. Asep A. Maoshul Affandy
Salah satu sifat Alloh yang terdapat di dalam Asma’ul Husna yaitu sifat As-Saami’u yang artinya adalah Alloh yang Maha Mendengar. Setiap langkah dan ucapan yang timbul dari lisan ataupun dari hati sanubari, semuanya dapat didengar Alloh.
Salah satu sifat Alloh yang terdapat di dalam Asma’ul Husna yaitu sifat As-Saami’u yang artinya adalah Alloh yang Maha Mendengar. Setiap langkah dan ucapan yang timbul dari lisan ataupun dari hati sanubari, semuanya dapat didengar Alloh.
Bisikan hati kita tentunya dapat menimbulkan dua niat, yaitu niat baik dan niat buruk. Keduanya tidak akan lepas dari pendengaran dan disaksikan oleh Alloh sehingga kita tidak dapat menghindari dari-Nya.
Ketika datangnya niat baik dalam hati kita maka Alloh akan mencatatnya sebagai amal kebaikan, tetapi sebaliknya apabila yang datang itu niat jelek maka Alloh tidak akan langsung mencatatnya sebagai amal kejelekan, kecuali apabila niat jelek itu dilakukan sesuai dengan apa yang telah diniatkannya.
Oleh karena itu, kita harus waspada dalam mengatur setiap gejolak hati dengan dua cara :
1. Harus bisa menjiwai لا مطلوب الا الله yang artinya; tidak ada yang pantas untuk dilakukan kecuali perintah Alloh. Jadi, selamanya kita harus menunggu perintah dari Alloh, singkirkan perintah nafsu amarah yang mengakibatkan kepada perbuatan maksiyat.
2. Kuatkan iman, bahwa di samping kita ada dua malaikat Roqib dan Atid yang selamanya mencatat perilaku kita. Alloh berfirman dalam surat Az-Zukhruf ayat 80 :
“Apakah mereka mengira, bahwa Kami (Alloh) tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.
PENJELASAN :
Alloh mengatakan; Kami mempunyai 99 (sembilan puluh sembilan) nama. Panggillah nama Kami sesuai dengan apa yang kalian inginkan. Di antara rupa-rupa Asma Alloh ada yang dinamakan As-Saami’u yang artinya Alloh Maha Mendengar. Alloh mendengar bukan dengan telinga, sebab Alloh bukan Jirim yang membutuhkan kepada ‘Arodl, tetapi Dzat yang mempunyai Sifat. Oleh karenanya Alloh mendengar dengan sifat Sama’-Nya. Maka tidak ada batasan dan ukuran yakni yang didengar oleh Alloh bukan sekedar suara tetapi bisikan hati pun terdengar, jelas atau tidak, keras atau tidak, semuanya pun didengar Alloh.
Dalam menggunakan peribahasa setiap hari kita harus berhati-hati, jangan ada kata-kata “Suara hati sanubari kita didengar Alloh, apalagi suara yang keluar dari mulut jelas akan lebih terdengar”. Sepintas kalimat ini sepertinya benar, padahal salah besar. Bila mempunyai anggapan seperti itu maka mendengarnya Alloh tidak berbeda dengan makhluq sebab ada bahasa “jelas” dan “lebih jelas” padahal sesungguhnya suara samar, kecil, keras, semuanya sama pada jelasnya dihadapan Alloh.
Kita sebagai manusia yang beriman harus lebih mawas diri dalam tingkah perilaku sebab semua gerak-gerik anggota badan juga bisikan hati didengar oleh Alloh. Jangan punya anggapan bahwa kita sendirian, tidak ada yang mendengarkan, padahal yaqin bukti ada yang mendengarkan dan ada yang memperhatikan yaitu Alloh. Harus lebih waspada sebab barangkali ada kelakuan jelek yang ditulis oleh utusan Alloh yaitu malaikat Atid.
Firman Alloh surat Az-Zukhruf ayat 80 :
“Apakah mereka mengira, bahwa Kami (Alloh) tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.
Supaya pekerjaan atau bisikan hati kita baik maka solusinya kita harus menjiwakan لا مطلوب الا الله Tiada lagi yang harus dijalani kecuali perintah Alloh dalam hati sanubari kita. Yang manfa’atnya tidak akan ada bisikan hati untuk melakukan kejelekan sebab tiada lagi yang kita lakukan kecuali perintah dari Alloh.
Alloh menugaskan dua malaikat yang selamanya mengikuti kita kapan pun, dimana pun, bagaimana pun keadaan kita pasti akan mengikuti kita karena Alloh pun memberi petunjuk kepada kita dengan lafadz إقراء yang artinya “bacalah”. Sedangkan yang harus dibaca ada empat :1. Tempat2. Situasi3.
Mudah-mudahan ada manfa’atnya khusus untuk pribadi, umumnya bagi semua ummat muslimin. Begitu pula mari kita pinta kepada Alloh agar kita sebagai manusia mendapatkan Rohmat serta Maghfiroh Alloh SWT. Bisa mawas diri dan lebih berhati-hati dalam gerak-gerik hati sanubari dan melakukan sesuatu sebab dimana pun, bagaimana pun, kapan pun, ada dua malaikat yang diutus Alloh yakni Roqib dan Atid yang selamanya mengikuti kita.
Aamiin ya Robbal ‘aalamiin.
Manfaat dan mudharat bagi diri sendiri
KH. Abdul Aziz Affandy
Taat kita tidak ada manfaatnya bagi Alloh. Begitupun maksiat kita tidak ada madaratnya bagi Alloh. Justru sebaliknya manfaat untuk kita dan madarat pun untuk kita.Di antara kemanfaatannya menjadi amal baik untuk bekal di akhirat dan tercipta tatanan hidup kita di dunia. Di antara kemadharatannya yaitu menjadi dosa yang akan menerima siksaan di akhirat serta tiada ketenangan bersama dengan manusia di dunia.
Taat kita tidak ada manfaatnya bagi Alloh. Begitupun maksiat kita tidak ada madaratnya bagi Alloh. Justru sebaliknya manfaat untuk kita dan madarat pun untuk kita.Di antara kemanfaatannya menjadi amal baik untuk bekal di akhirat dan tercipta tatanan hidup kita di dunia. Di antara kemadharatannya yaitu menjadi dosa yang akan menerima siksaan di akhirat serta tiada ketenangan bersama dengan manusia di dunia.
Penjelasan :
Para ulama kembali mengajak untuk menggunakan akal pikiran kita, yang dimaksud tiada lain kecuali tumbuh lahirnya sikap positif dalam melaksanakan perintah dan menghindar dari segala larangan Alloh.
Hal taat dan maksiat kita sudah pada mengetahuinya bahwa Alloh :
"...Sesungguhnya Alloh adalah Dzat yang Maha Kaya (tidak membutuhkan) kepada seluruh alam (makhluq)". QS. Ali Imron 97
Alloh merupakan Dzat Maha Kaya, tidak membutuhkan dan tidak akan terpengaruh oleh makhluq-Nya. Beda dengan seorang makhluq yang kaya raya tapi butuh dan terpengaruh oleh makhluq lainnya. Alloh mempunyai sifat Irodat (Kehendak), Alloh mempunyai sifat Qudrot (Kuasa) Alloh yang berkehendak dan berkuasa, Alloh yang Maha Kuasa bisa memerintahkan kepada seluruh manusia yang berada di jagat raya untuk bertaqwa kepada-Nya.
Sebagaimana firman-Nya :
"Wahai manusia! Kalian semua harus bertaqwa kepada Alloh dengan taqwa yang sesungguhnya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam". QS. Ali Imron 102
Begitu pula Alloh berfirman dalam Al-Baqoroh 21 :Bahwa kita diperintah Alloh untuk menyembah kepada-Nya, harus melaksanakan segala perintah-Nya. Di sisi lain Alloh Maha Kaya yang sama sakali tidak membutuhkan makhluq-Nya tapi Alloh memerintah kepada kita dalam bentuk-bentuk ibadah, bentuk-bentuk taat yang tidak ada manfaatnya bagi Alloh.
Meski seluruh makhluq yang berada di alam dunia beriman kepada Alloh, beribadah kepada Alloh, bertaqwa kepada Alloh, taat kepada Alloh tidak akan menambah Kemuliaan dan Keagungan Alloh, bahkan Alloh yang memberi pahala bagi orang-orang yang taat kepada-Nya.Alloh adalah Dzat Maha Kuasa yang telah menciptakan bumi dan langit beserta isinya memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk menghindari maksiyat.
Di sisi lain Alloh Dzat yang tidak membutuhkan kepada makhluqNya tetapi melarang kepada hambaNya untuk melakukan bentuk-bentuk maksiyat yang padahal tidak ada madharatnya bagi Alloh karena meskipun seluruh makhluq maksiyat, menentang kepada Alloh, sedikitpun takkan mengurangi Kemuliaan dan Keagungan Alloh, tetapi Alloh yang akan memberi adzab bagi orang yang melakukan dosa.
Maka dari sini sangat kelihatan orang yang awas mata hatinya, dia mendapatkan manfaat dari taat kepada Alloh untuk dijadikan bekal di akhirat serta terciptanya tatanan kehidupan di dunia, berkumpul damai bersama dengan makhluq, gemah ripah repeh rapih loh jinawi.
Berbeda dengan orang-orang buta hatinya yang tidak mendapatkan manfaat dari taat kepada Alloh tapi malah membuat kemadharatan bagi dirinya bahkan teman hidupnya adalah melakukan maksiyat yang menimbulkan datangnya adzab Alloh di akhirat, merusak tatanan kehidupan makhluq di dunia, diteundeun di kulon ngiruh, diteundeun di tengah ngubek, diteundeun di wetan ngabendung, dijieun pamikul bengkung, dijieun cemped meped".Wallohu a'lam bisshowab.
Semogalah kita diberi hidayah serta taufiq untuk melakukan apa yang telah diperintahkan dan menjauhi apa yang telah dilarang Alloh SWT. Aamiin yaa Robbal 'aalamiin.
Jumat, 13 Juni 2008
SAKUR MANUSA ANU DILAHIRKEUN ETA DINA KAAYAAN BERSIH
KH UMAR NAWAWI
Wawadahan anu bersih palay awet bersihna teu kenging dilebetan ku perkawis anu kotor. Sanaos palay awet bersihna upami dilebetan ku perkawis anu kotor, eta wadah pasti kabawa kotor.
Ari asalna Manusa eta Makhluq anu bersih. Sakumaha pidawuh Rosul SAW. :
كُلُّ مَوْلَوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
Nanging seueur kajantenan, manusa ka palih dieunakeun janten kotor, pasti karana dilebetan ku anu kotor. Supados awet bersihna maka berusaha teu kenging aya kokotor anu lebet, anu dilebetkeunnana kedah anu serba bersih.
Conto; otak palay bersih, lebetan ku elmu Alloh! Sabab Elmu Alloh mah
اَلْعِلْمُ نُوْرُ اللهِ
Badan palay bersih (bersih haqiqi) teu kenging digunakeun kana salian ibadah ka Alloh! Hate palay bersih, lebetan ku kabersihan Alloh!
Urang ngadamel tamtsil (conto) hiji wadah (gelas), kawitna wadah teh bersih, dilebetan ku cai anu bersih, awet bersihna. Tapi pami dilebetan ku cai kotor, ieu wadah kabawa kotor. Malahan pami wadah bersih sering dilebetan ku anu kotor sanajan dibersihan saterusna oge, tetep sok aya nyangsang nempel kokotor.
Cara anggoan bersih (bodas), sering-sering eta anggoan kageutahan sanajan disabunan ku sabun anu matak ngahilangkeun geutah (bayclin), angger moal bersih pisan, angger aya nempel tilas geutah dina eta anggoan anu bersih.Manusa ku Alloh diciptakeun mangrupakeun makhluq anu bersih. Sakumaha pidawuh Rosul SAW. :
كُلُّ مَوْلَوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ“
Sakur anu dilahirkeun (Manusa) eta dina kaayaan bersih”Anu kadieuna jadi Abu Jahal, keur dilahirkeun mah bersih. Nu kadieuna jadi Fira’un, keur dilahirkeunna mah fitrah (bersih). Tapi pedah naon Manusa ka palih dieunakeun sok jadi kotor terutami kotor hate? Sabab sering teuing dilebetan ku anu kotor.
Otak Manusa teh bersih tapi kadang-kadang sok timbul dina otak teh timbul kalang-kabut pikiran (kalangkang kabutuh) nepika timbul sirah teh rieut, beuki tambah kokotor kana sirah, beuki tambah rieut. Tapi upami sirah diasupan ku nu bersih ku Elmu Alloh,
اَلْعِلْمُ نُوْرُ اللهِ“
Elmu teh Cahaya Alloh”Nyaeta Elmu kaagamaan, otak urang moal kotor. Ku akibat seueur teuing Elmu anu dilebetkeun kana pemikiran jeung kana otak, pemikiran urang nepika otak teh linglung. Kadang-kadang aya otak teh bingkeng, kadang-kadang aya jalma nepika stress, kadang-kadang aya jalma nepika struk. Akibat otak pemikiranna terus-terusan dikotoran.
Tapi pami dilebetan ku Elmu Alloh, Santri diasupkeun kana otak pemikiranna teh Elmu Alat; ti mimiti Jurumiyah nepika Jam’ul Jawaami’, pami fiqihna; ti mimiti Safinah nepika Roudloh, Tuhfah. Ti mimiti kitab pangletikna nepika kitab panggedena, sanajan terus-terusan moal aya kokotor dina otak.
Tapi sok aya paribasa cenah Santri keur nalar jadi kagegeloan. Punten eta gelona teh lain akibat tina nalar, tapi ku mikir anu sejen dina waktu keur nalar. Sim kuring di dieu (waktos masantren) nalar Jurumiyah ngan ukur saminggu, Shorof ngan ukur 15 poe, ari kopeah nomber 3. Sim kuring sanes takabur tapi tawadlo’ da sirahna letik, teu pernah sim kuring gelo. Naon sababna? Salamina sirah diasupan ku nu bersih. Ku Nurulloh.
Badan urang palay bersih? anggota badan palay suci? Moal kotor pami sadidinteunna ibadah ka Alloh. Teu aya kabejakeun jalma anu getol sholat jadi lencangeun, teu aya kabejakeun jalma nu getol wudlu kekeongeun. Tapi kotor badan, loba daki lain ku wudlu, lain ku adus, lain ku mandi, tapi awak dikotoran ku kokotor-kokotor.
Sok coba hate asupan ku Hiqdu, salamina ngunek-ngunek, kana romantika jadi ngurangan, kana bahasa jadi ambek-ambekan, kana gawe teu puguh pamolah, sabab dieusian ku Hiqdu. Eusian hate ku Riya, salamina hayang kaawehkeun teu purun kaelehkeun, salami hayang dipuji teu purun dicaci, sabab hatena diasupan ku Riya.
Tapi pami diasupan ku Subhanalloh mung Alloh nu Maha Suci, hate moal bisa kotor.Sim kuring khususna, umumna ka jama’ah. Urang belajar, baca jenengan Alloh, asli bersih tong dikotoran, otak tong dikotoran, badan tong dikotoran, hate tong dikotoran! Sabab isukan nyanghareup ka nu Maha Suci era kudu mawa nu kotor Nau`dzubillah.
Jaga ning esok bakal menghadap Alloh nu Sangat Suci, lamun urang mawa kokotor kacida isinna payuneun Mantenna
Nyukuran Ni'mat ti Alloh
KH ABDUL AZIZ AFFANDY
Sikap manusa kana ni'mat anu ditarima ku dirina :
1. Anu bisa ngalap manfa’at tina eta ni’mat
2. Teu bisa ngalap manfa’at bahkan dirina kabawa ku fitnah ni’mat
Bisa atawa teu bisa ngalap kamanfa’atan, syareatna kumaha pembuktian dirina dina ngupayakeunnana, saperti moal bisa ngalap manfa’at mun teu apal timana eta ni’mat, moal apal timana hakekat eta ni’mat lamun can bisa pisah jeung salian nu mere ni’mat.
Langkah awal pikeun bisa ngalap manfaat tina ni’mat, sing bisa ngabuktikeun hiji waktu pikeun sagala anu aya di diri wungkul pikeun mayun ka Alloh.
Dimana Alloh nepikeun ni’mat ka manusa boh dunya atawa diniyyah. Conto ni’mat dunya saperti awak sehat, kasab lancar, kulawarga sejahtera, hutang lunas. Conto ni’mat diniyyah saperti ibadah ngarasa betah, karasa ni’matna tho’at.
Jalma anu bisa nampa eta ni’mat kabagi dua bagian :
1. Cerdas pikiran
2. Cerdas kajiwaan
Sabab aya anu cerdas pikirannana tapi bodo kajiwaannana, jalma anu cerdas pikiran mah dimana-mana aya nu mere ni’mat pasti bakal berfikir kudu mulang tarima ka nu mere eta ni’mat.
Jalma anu cerdas kajiwaan mah lamun aya nu mere ni’mat bakal prak migawe mulang tarima (syukuran) ka nu mere eta ni’mat, Ilustrasina caangna ruangan ku pedah dibuka jandelana tapi hakekatna lain ku pedah dibuka jandelana balikta ku sabab ayana cahaya panon poe.
Pang bodo-bodona jalma anu pola pikirna netepkeun caang dina ruangan ku pedah jandelana muka, ngeuweuhkeun cacaang cahaya panon poe, nyakitu deui pang bodo-bodona jalma anu diwowoy ku Alloh ku rupa-rupa ni’mat tuluy manehna teu ngarasaeun sabab Alloh can pernah nyabut kana eta kani’matan, conto dibere sehat huntu tapi teu ngarasa boga huntu sehat sabab Alloh can pernah mere ngasaan nyeri huntu nepika manehna poho ka Alloh anu mere huntu sehat.Supaya urang bisa ngarasa ngeunahna eta ni’mat, urang kudu bisa Ihtisabunnafsi anu buahna urang bakal tiasa manggihkeun hakekat saha anu mere ni’mat.
Mudah-mudahan urang dijadikeun ku Alloh jadi jalma anu cerdas pikiran tur cerdas kajiwaan. Aamiin.
Kamis, 12 Juni 2008
KUATKEUN AQIDAH TANJEURKEUN SYAREAT
KH ASEP A. MAOSHUL AFFANDY
Aya dua rupa perbedaan dina Islam :
1. Perbedaan 'Aqidah
2. Perbedaan cara ibadah
PENJELASAN :
Peryogi diuningakeun bahwa secara global dina Islam teh aya dua perbedaan :
Aya dua rupa perbedaan dina Islam :
1. Perbedaan 'Aqidah
2. Perbedaan cara ibadah
PENJELASAN :
Peryogi diuningakeun bahwa secara global dina Islam teh aya dua perbedaan :
Kahiji, Perbedaan 'Aqidah anu bakal ngakibatken dua perbedaan di Akherat, nyaeta jadi ahli Sawarga salawasna sarta moal kaluar deui tina Sawarga, aya deui anu ngakibatkeun bakal ngajadi ahli naraka salawasna tur moal kaluar deui tina naraka samisal kapercayaan ka Alloh marengkeun percaya ka lian Alloh (Musyrik) atawa salah ngaNabi boh sama sakali henteu ngaNabi ka Kanjeng Nabi Muhammad SAW. atawa marengkeun ngaNabi ka lian Nabi Muhammad SAW. samisal ka Mirza Gulam Ahmad jeung lianna atawa oge teu percaya kana Al-Quran atawa kana Al-Hadits jeung rea-rea deui sajaba ti eta.
Kadua, Perbedaan dina cara ibadah anu sok disebut Khilafiyyah samisal perbedaan Qunut jeung teu Qunut dina Sholat Subuh, perbedaan ngucapkeun Niyat (Usholli...) dina samemeh Sholat jeung sajabana.
Perbedaan anu ieu mah henteu ngakibatkeun bedana pangbalikan di Akherat, sadayana oge jadi ahli Sawarga, ngan pedah pikeun anu pernah ngalakonan ma’shiyat sarta teu meunang hampura ti Alloh SWT. eta mah samemeh asup ka Sawarga teh disiksa heula dina naraka. Lila jeung sakeudeungna dina naraka eta saukuran gede atawa leutik dosa dirina, ngan kabeh oge ari siksa mah teu aya anu teu nyeuri.Ku hal sakitu kuatkeun 'Aqidah, tanjeurkeun Syare’at di diri pribadi, dulur-dulur jeung babaturan salembur, ka beh dituna babaturan sanagara.
ULAH NYAPIRAKEUN PERKARA NU TEU PIRA
KH JAJA ABDUL JABBAR
Rosululloh SAW. ngadawuhkeun dina salah sawios Haditsna anu unggelna :
"Anjeun ulah rek nyapirakeun tina rupa kahadean kana naon bae perkara”.
"Anjeun ulah rek nyapirakeun tina rupa kahadean kana naon bae perkara”.
Tina Hadits anu ieu tiasa dipaham yen urang ulah nyapirakeun hiji perkara sanajan eta perkara dipandang hina sabab urang teu uninga dimana aya Ridlona Alloh SWT. Nyakitu deui sawangsulna ulah rek nyapirakeun tina rupa kagorengan kana naon bae perkara sanajan eta kagorengan dianggap hina sabab urang teu apal boa-boa dina eta perkara teh ayana bebendu Alloh SWT. Sahingga jadi sabab cilakana diri dina naraka.
PENJELASAN :
Dina raraga milampah hirup di alam dunya urang sebagai hamba Alloh kudu leuwih ati-ati dina ngalakukeun hiji perkara, ulah wani nyapirakeun tina hiji kahadean sok sanajan eta kahadean dianggap hina, saperti nyapirakeun Infaq, Shodaqoh, Sholat awal waktu berjama’ah jeung sajabana.
Aya kisah anu bisa dijadikeun conto ; hiji awewe urang Bani Isro’il anu profesina jadi pelacur dina hiji waktu manehna keur aya di perjalanan. Kulantaran ngarasa halabhab (haus) manehna neangan sumur cai anu tujuanna pikeun ngaleungitken rasa halabhabna. Dina waktu rek turun ka sumur cai katempo aya anjing anu letahna ngelel ker kahausan hayangeun nginum kusabab sumurna jero eta anjing teu bisaeun turun tapi ngan saukur bisa nempokeun cai tina luhureun sumur, timbul tina rasa karunya jeung nyaah eta awewe teh turun ka sumur cai bari ngudar sapatuna anu dijadikeun wadah pikeun nyiuk cai tului eta cai diinumkeun ka anjing.
Menurut para Ulama tina sabab laku lampah eta awewe, dosa anu pernah dilakukeun salila hirupna dihampura jeung meunangkeun Rohmat Alloh SWT.Aya deui tina sapalih contona nyaeta Imam Ghozali dina saba’da pupus, anjeunna kaimpenkeun ku salah sawios sahabatna. Imam Ghozali ditaros :"Tos midamel naon Alloh ka anjeun ?”Imam Ghojali ngawaler :“Kuring teh ditempatkeun di payuneun Alloh (tempat anu Mulya)”Teras Alloh sasauran ka Imam Ghojali :“Ku naon sababna anjeun ditempatkeun dina tempat anu Mulya?”Imam Ghojali ngawaler :“Ku 'amal tina ladang geus ngarang kitab, Sholat Tahajjud, Sholat Dluha jeung sajabana”Teras Alloh ngawaler :“Kuring henteu nampa amal anu eta tapi ku pedah dina hiji waktu anjeun keur ngarang kana hiji kitab aya laleur anu euntreup dina mangsi anjeun hayangeun nginum tuluy anjeun eureun heula tina ngarang kitab mere kasempetan pikeun laleur nyerot kana eta mangsi”.
Tina sapalih kisah anu ieu urang sebagai hamba Alloh anu miharep kana RidloNa ulah wani-wani nyapirakeun hiji perkara sanajan eta perkara dipandang hina, sabab urang teu apal naha dina eta perkara teh aya Ridlona Alloh atawa bebendon Alloh.
SUNNATULLOH ANU TUMIBA KA HAMBA-HAMBANA
KH ABDUL AZIZ AFFANDY
Sunnatulloh (kabiasaan Alloh) ngageroan ka hamba-hambaNa pikeun aribadah ka Alloh ku dua cara :
1. Anjeunna ngagero ku maparin kalaluasaan rizqi, angger sehat.
2. Ngageroan ku jalan nurunkeun kamadharatan (cocoba).
Pangna kitu sabab jiwa manusia kabagi 2 :
1. Jiwa-jiwa anu marulya pikeun anjeunna digero ku Alloh ku kalaluasaan rizqi.
2. Jiwa-jiwa anu dipoyok, maranehna digero ku Alloh ku balai (kamadharatan).
Pikeun urang sing cekas panempo ati dina nalika dipaparin kalaluasaan rizqi atawa nampa balai, tegesna duanana eta teh kanyaah ti Alloh keur urang sebagai hambaNa.
PENJELASAN :
Jalma anu resep kana wayang merhatikeun kana pawayangan teh lain ku pedah ningali kayu nu usik, sabab ningali kayuna mah teu aya bedana. Pasti anu ngaran Cepot nu awakna begang jeung beungeutna beureum, anu beuteungna bucitreuk jeung warnana hideung eta mah Semar ngarana.Tapi nu jadi daya tarik jeung barometer "ieu wayang alus" lain pedah alus wayangna tapi maha alus anu ngadalangna.
Lamun anu ngadalangna teu bisaeun mah sok sanajan wayangna alus moal matak pikaresepeun. Tapi sok sanajan wayangna butut ari anu ngadalangna alus mah, melaan teu sare jang lalajo eta pagelaran wayang.Kitu deui warna-warni Taqdir anu karandapan ku diri urang sewang-sewangan. Kadang hirup teh bungah, hate tenang, awak sehat, usaha lancar.
Tapi kadang-kadang hirup teh susah, awak geringan, sawah ku hama, dagang tinggal daki.Pikeun mu'min anu sajati moal kapangaruhan ku pait jeung amisna cobaan. Anu dimaksud ku moal kapangaruhan di dieu anjeunna cekas yen datangna eta Taqdir aya anu ngadalangna nyaeta Alloh anu ngadatangkeun sagala perkara pasti aya hikmahna, anu mana fungsina nalika dibere nugraha urang kudu syukuran sabab Alloh ngadawuh dina surat Ibrohim ayat tujuh :
“Jeung sing inget! Nalika Alloh ngagero; "Sabenerna lamun anjeun syukuran, pasti Kami rek nambahan (nikmat) ka anjeun, jeung lamun anjeun ingkar (kana Ni’mat Kami), Sabenerna adzab Kami leuwih banget".
“Jeung sing inget! Nalika Alloh ngagero; "Sabenerna lamun anjeun syukuran, pasti Kami rek nambahan (nikmat) ka anjeun, jeung lamun anjeun ingkar (kana Ni’mat Kami), Sabenerna adzab Kami leuwih banget".
Fungsina dibere imtihan (cocoba) urang kudu istighfar.
Saur imam Abu Madyan "Geus jadi Sunnatulloh, Alloh ngagero ka hambaNa pikeun aribadah ku dua cara :
1. Anjeunna ngagero ku maparin kalaluasaan rizqi, dibere cageur. Cageurna jadi wasilah keur jalan syukuran ka Alloh. Alloh ngageroan kalaluasaan rizqi khusus pikeun jalma anu boga nufusul karimah (jiwa-jiwa anu marulya) tegesna elingna teu kudu dipaksa.
2. Anjeunna ngagero ku kamadharatan. Dibere gering supaya geringna jadi eling ka Alloh jeung kana dosa anu nimbulkeun istighfar.
Alloh ngagero ku kamadharatan khusus pikeun jalma anu boga nufusul la’imah nyaeta anu elingna kudu dipaksa ku dibere cocoba.Teu saeutik jalma dibere ni'mat tapi kalah jadi kufur ni'mat, teu saeutik jalma dibere imtinan tapi kalahkeun kufur. Tapi kufur jeung teu kufurna eta mah kumaha urangna.Mudah-mudahan urang kaasup hamba Alloh anu “bagja eling - lara eling” keur meunang kabungah inget ka Alloh, keur meunang ka susah oge inget ka Alloh. Aamiin yaa Alloh yaa Robbal 'aalamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)